Skip to main content

Tentang blog ini

Saya mulai belajar coding secara serius sejak sekitar tahun 2015, dimana waktu itu saya sedang mengerjakan tesis. Sejak tahun 2000-2005 sebenarnya saya mencoba belajar, tapi sepertinya waktu itu saya salah memilih bahasa pertama untuk dipelajari.

Mungkin sedikit aneh, karena meskipun latar belakang pendidikan saya adalah Arsitektur, tesis yang saya ambil terkait tsunami.

Yah, tetap ada kaitannya sih, karena tema tesis saya itu saya kaitkan dengan spatial configuration (konfigurasi spasial) yang sebenarnya sifatnya keruangannya lebih luas (bukan ruang di dalam bangunan arsitektur semata).

Keruangan di sini lebih seperti dalam istilah tata ruang, mengingat waktu itu saya masih jadi salah satu staf di sebuah kantor yang membidangi tata ruang.

Long story short, karena tema tesis saya mengenai tsunami dan kebetulan di lokasi studi saya belum saya temukan simulasi tsunami yang saya butuhkan sebagai dasar untuk melakukan analisis pada kawasan studi saya yang lebih mikro, maka saya mau tidak mau harus running sendiri sekian kali simulasi tsunami based on model sumber tsunami yang telah tersedia di dalam literatur.

Dari situlah saya mulai mengenal coding. Karena library/module yang saya gunakan untuk simulasi tsunami merupakan python module, jadilah saya belajar Python 2.7. 

Barulah setelah saya berhasil menulis dan menjalankan program untuk simulasi tsunami tersebut (dengan berbekal membaca dari dokumentasi), saya jadi makin tertarik belajar bahasa pemrograman komputer.

Setelah itu, saya mencoba-coba juga beberapa bahasa lain seperti php dan javascript. 

Selama belajar itu sampai sekarang, sepertinya saya lebih banyak gagal ketimbang berhasil dalam belajar pemrograman. Tanpa latar pendidikan teknologi informasi, saya mulai belajar seperti orang yang mencari sesuatu dalam gelap. Tak ayal butuh sekian tahun buat saya untuk mempelajari skillset satu ini.

Untuk itu, space ini saya buat untuk menemani saya belajar, gagal dan memperbaikinya, dan mencatatkan solusi-solusi kecil yang akan menjadi anak tangga bagi saya untuk memahami lebih baik lagi.

Selain itu, saya berharap ruang ini akan menjadi ruang berbagi untuk sesama pembelajar yang menemui rintangan-rintangan di tengah jalan mereka, seperti saya...   

Semoga sesuatu yang sederhana ini ada manfaatnya...


Wassalam.

Popular posts from this blog

Belajar Coding Intensive Bootcamp Online 300 ribuan selama Sebulan dapat apa saja?

Sekedar catatan sedikit tentang apa yang saya pelajari saat mengikuti online intensive coding bootcamp kelas project React Native selama sebulan kemarin. Pada umumnya cukup menantang karena setiap hari harus catch up dengan materi yang diberikan dan tugas harian (ya, tugasnya pun setiap hari, jadi peserta mau tidak mau harus coding tiap hari). Selain itu ada quiz tiap akhir pekan atau dalam kasus kelas project tiap akhir pekan harus menyelesaikan Mini Project yang merupakan bagian dari Final Project. Lalu apa saja yang dipelajari selama sebulan tersebut? (dengan biaya Rp 300 K itu? *atau Rp 200K karena saya dapat voucher 100rb). Beberapa hal yang saya pelajari: SplashScreen dan onBoarding  Register (dengan OTP)  Login (dengan JWT ke API Sanbercode, Google Sign In dengan firebase, serta local sign in dengan sidik jari / fingerprint)  Passing data dengan menggunakan route.params melalui navigation, passing data dengan konteks ({useContext}) serta melalui props  Home Page kekinian meman

Cara Mengambil Foto dengan RNCamera dan Upload Foto ke API di React Native

Berikut ini catatan singkat saya saat belajar mengambil dan upload foto ke API menggunakan React Native yang saya pelajari saat mengikuti Indonesia Mengoding Intensive Coding Bootcamp React Native Kelas Project yang diadakan Sanbercode. Sebelumnya, bukan bermaksud iklan, namun pengalaman saya mengikuti batch online intensive coding bootcamp di Sanbercode cukup recommended (khususnya jika kita sudah memiliki sedikit saja dasar pengetahuan programming. Jika belum ada dasar pengalaman pemrograman, Sanbercode juga menawarkan kelas dasar yang bisa diikuti pemula). Jadi ini adalah honest review. Saya sendiri telah mengambil kelas Laravel Web Devt (30 hari), React Native Dasar (30 hari) dan React Native lanjutan atau kelas project (30 hari). Investasi totalnya hanya 700 ribu rupiah (3 bulan intensive online bootcamp!), itu jika tanpa potongan.  Dengan biaya 200 ribu rupiah untuk kelas dasar dan 300 ribu rupiah untuk kelas project, saya rasa jika dibandingkan Coding Bootcamp lain yang harga

Cara atau Solusi Mengatasi java.lang.OutOfMemoryError :app:mergeDexRelease FAILED saat Build APK di React Native

 Pernah mengalami error java.lang.OutOfMemoryError :app:mergeDexRelease FAILED saat Build APK di React Native? Ente nggak sendirian Ndan .. Saya juga pernah mengalami error serupa..   Cara mengatasi / solusi / obatnya ternyata cukup simple. Untuk memastikan bahwa pada saat build APK/AAB tidak terjadi OutofMemory error, kita bisa melakukan setting pada file gradle.     Nah, udah tenang kalau sudah ada build successfull hehe.. Semoga bermanfaat..