Ticker

6/recent/ticker-posts

Jumping to Flutter's wagon while it's still young

Setelah merasakan learning curve yang cukup nyaman dalam belajar coding di React Native, sore ini saya memutuskan untuk melompat ke gerobak Flutter, khususnya mengingat usia Flutter yang masih sangat muda: 2 tahun.

OK, sebelum mencoba Flutter, saya harus melakukan instalasi beberapa program terlebih dahulu.

  1. Android Studio + Android SDK (yang sudah terinstall, jadi aman dan bisa di skip)
  2. Flutter SDK (ukurannya sekitar 138.4 MB saat saya install ini)
  3. Flutter dan Dart Plugin di dalam Android Studio (nah, ini yang akan saya bahas kali ini karena meskipun sudah diinstall, flutter doctor menganggap bahwa saya belum install dua plugin ini)
  4. Flutter dan Dart extension di VSCode (yang saat ini jadi code editor favorit. Btw, saya jauh lebih suka develop di VSCode dibandingkan develop langsung di Android Studio lebih karena: a. saya tidak bisa Java, b. Android Studio sangat berat dijalankan dibandingkan VSCode di MBP saya yg jadul, mid-2009, sy belinya pun second haha.. laptop 11 tahun janganlah disuruh kerja berat..)

Nah, kalau semua sudah terinstall dengan baik baru kita bisa develop mobile app dengan Flutter lewat VSCode saja (tidak perlu membuka Android Studio. Android Studio diinstall hanya agar dependency/program yang dibutuhkan bisa diakses lewat VSCode/terminal).

Hanya saja saya sempat terbentur error ini, dimana Flutter dan Dart plugin tidak terbaca saat menjalankan flutter doctor.

Flutter doctor tidak bisa membaca bahwa flutter dan dart plugin sudah diinstall di Android Studio

Nah, hal ini karena path dari plugin pada Android Studio versi 4.1+ nampaknya sedikit berubah di OSX. Sehingga menurut artikel ini, solusinya cukup dengan melakukan link path nya saja. 

Setelah dijalankan, benar saja akhirnya flutter dan dart terbaca di flutter doctor

Solusi problem flutter dan dart tidak terbaca flutter doctor

Uhuy.. selamat belajar Flutter! :)


Post a Comment

0 Comments