Skip to main content

Jumping to Flutter's wagon while it's still young

Setelah merasakan learning curve yang cukup nyaman dalam belajar coding di React Native, sore ini saya memutuskan untuk melompat ke gerobak Flutter, khususnya mengingat usia Flutter yang masih sangat muda: 2 tahun.

OK, sebelum mencoba Flutter, saya harus melakukan instalasi beberapa program terlebih dahulu.

  1. Android Studio + Android SDK (yang sudah terinstall, jadi aman dan bisa di skip)
  2. Flutter SDK (ukurannya sekitar 138.4 MB saat saya install ini)
  3. Flutter dan Dart Plugin di dalam Android Studio (nah, ini yang akan saya bahas kali ini karena meskipun sudah diinstall, flutter doctor menganggap bahwa saya belum install dua plugin ini)
  4. Flutter dan Dart extension di VSCode (yang saat ini jadi code editor favorit. Btw, saya jauh lebih suka develop di VSCode dibandingkan develop langsung di Android Studio lebih karena: a. saya tidak bisa Java, b. Android Studio sangat berat dijalankan dibandingkan VSCode di MBP saya yg jadul, mid-2009, sy belinya pun second haha.. laptop 11 tahun janganlah disuruh kerja berat..)

Nah, kalau semua sudah terinstall dengan baik baru kita bisa develop mobile app dengan Flutter lewat VSCode saja (tidak perlu membuka Android Studio. Android Studio diinstall hanya agar dependency/program yang dibutuhkan bisa diakses lewat VSCode/terminal).

Hanya saja saya sempat terbentur error ini, dimana Flutter dan Dart plugin tidak terbaca saat menjalankan flutter doctor.

Flutter doctor tidak bisa membaca bahwa flutter dan dart plugin sudah diinstall di Android Studio

Nah, hal ini karena path dari plugin pada Android Studio versi 4.1+ nampaknya sedikit berubah di OSX. Sehingga menurut artikel ini, solusinya cukup dengan melakukan link path nya saja. 

Setelah dijalankan, benar saja akhirnya flutter dan dart terbaca di flutter doctor

Solusi problem flutter dan dart tidak terbaca flutter doctor

Uhuy.. selamat belajar Flutter! :)


Comments

Popular posts from this blog

Belajar Coding Intensive Bootcamp Online 300 ribuan selama Sebulan dapat apa saja?

Sekedar catatan sedikit tentang apa yang saya pelajari saat mengikuti online intensive coding bootcamp kelas project React Native selama sebulan kemarin. Pada umumnya cukup menantang karena setiap hari harus catch up dengan materi yang diberikan dan tugas harian (ya, tugasnya pun setiap hari, jadi peserta mau tidak mau harus coding tiap hari). Selain itu ada quiz tiap akhir pekan atau dalam kasus kelas project tiap akhir pekan harus menyelesaikan Mini Project yang merupakan bagian dari Final Project. Lalu apa saja yang dipelajari selama sebulan tersebut? (dengan biaya Rp 300 K itu? *atau Rp 200K karena saya dapat voucher 100rb). Beberapa hal yang saya pelajari: SplashScreen dan onBoarding  Register (dengan OTP)  Login (dengan JWT ke API Sanbercode, Google Sign In dengan firebase, serta local sign in dengan sidik jari / fingerprint)  Passing data dengan menggunakan route.params melalui navigation, passing data dengan konteks ({useContext}) serta melalui props  Home Page kekinian meman

Cara Mengambil Foto dengan RNCamera dan Upload Foto ke API di React Native

Berikut ini catatan singkat saya saat belajar mengambil dan upload foto ke API menggunakan React Native yang saya pelajari saat mengikuti Indonesia Mengoding Intensive Coding Bootcamp React Native Kelas Project yang diadakan Sanbercode. Sebelumnya, bukan bermaksud iklan, namun pengalaman saya mengikuti batch online intensive coding bootcamp di Sanbercode cukup recommended (khususnya jika kita sudah memiliki sedikit saja dasar pengetahuan programming. Jika belum ada dasar pengalaman pemrograman, Sanbercode juga menawarkan kelas dasar yang bisa diikuti pemula). Jadi ini adalah honest review. Saya sendiri telah mengambil kelas Laravel Web Devt (30 hari), React Native Dasar (30 hari) dan React Native lanjutan atau kelas project (30 hari). Investasi totalnya hanya 700 ribu rupiah (3 bulan intensive online bootcamp!), itu jika tanpa potongan.  Dengan biaya 200 ribu rupiah untuk kelas dasar dan 300 ribu rupiah untuk kelas project, saya rasa jika dibandingkan Coding Bootcamp lain yang harga

Cara atau Solusi Mengatasi java.lang.OutOfMemoryError :app:mergeDexRelease FAILED saat Build APK di React Native

 Pernah mengalami error java.lang.OutOfMemoryError :app:mergeDexRelease FAILED saat Build APK di React Native? Ente nggak sendirian Ndan .. Saya juga pernah mengalami error serupa..   Cara mengatasi / solusi / obatnya ternyata cukup simple. Untuk memastikan bahwa pada saat build APK/AAB tidak terjadi OutofMemory error, kita bisa melakukan setting pada file gradle.     Nah, udah tenang kalau sudah ada build successfull hehe.. Semoga bermanfaat..